Book Review: The Price of Inequality






Buku The Price of Inequality yang ditulis oleh Joseph E. Stiglitz mengambil latar belakang konteks dimana dunia merasa telah lelah dengan hal- hal salah yang dibiaskan dan dianggap benar. Pada dasarnya, terdapat sebuah anggapan bersama bahwa Amerika Serikat merupakan suatu tempat dimana semua impian dapat terwujudkan. Berkebalikan dengan itu, di Amerika Serikat sendiri justru sedang dilanda protes yang menyerukan occupy wall street yang dilatarbelakangi oleh permasalahan keburukan sistem pasar, ekonomi dan politik di Amerika Serikat.

Keserakahan akan kekuasaan yang mulai tak terkendali digambarkan sebagai ego yang menuliskan batu nisan bagi impian kejayaan Amerika Seriakat. Terjadinya kegagalan pasar di Amerika Serikat membawa pada sistem ekonomi yang buruk karena cenderung terperangkap uang. Nilai- nilai demokrasi mulai runtuh dan terjadi degradasi nilai- nilai moral yang disebabkan oleh masyarakat dan sistem. Kegagalan sistem politik dan pemerintah diperlihatkan pada tidak berhasilnya pemerintah menangkap apa yang diinginkan oleh para protester. Ketidakadilan yang disebabkan oleh pasar sendiri kemudian dapat dilihat pada terciptanya kelas- kelas sosial di Amerika Serikat,

Keberadaan 1% penduduk yang memiliki tempat tinggal terbaik, pendidikan terbaik, dokter terbaik dan gaya hidup terbaik sama sekali berkebalikan dengan kondisi 99 % penduduk Amerika Serikat lainnya. Ketimpangan yang terjadi memaparkan secara jelas bahwa saat ini keberlangsungan hidup 1% penduduk Amerika Serikat sesungguhnya sangat bergantung kepada 99 % lainnya. Stiglitz menyingkap sumber ketidaksetaraan tersebut dan mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu bagaimana pasar tidak bekerja dengan secara efisien dan stabil, bagaimana sistem politik gagal untuk memperbaiki kekurangan dari pasar dan bagaimana sistem ekonomi dan politik saat ini pada dasarnya tidak adil. Stiglitz juga menjelaskan bagaimana factor- factor penyebab ketidaksetaraan saling terkait erat dan lebih dari itu, memberikan kontribusi ketidakstabilan bagi sistem ekonomi di Amerika Serikat.

The Price of Inequality menggambarkan mengenai kondisi Amerika Serikat yang sesungguhnya. Buku ini dibagi dalam sepuluh bab, namun penulis memutuskan untuk mengabreviasinya dalam tiga bagian. Pada bagian pertama, Stiglitz menjelaskan tentang kondisi Amerika Serikat dimana pertumbuhan ekonominya hanya mengerucut pada 1% penduduknya saja dan menciptakan ketidaksetaraan. Stiglitz kemudian menjelaskan bagaimana ketidaksetaraan tersebut dapat terbentuk dan menyimpulkan bahwa golongan 1% penduduk AS merupakan yang bertanggung jawab. Pada bagian kedua, Stiglitz menjelaskan dampak-dampak ketidaksetaraan bagi Amerika Serikat sendiri dari segi ekonomi, politik, dan sosial. Pada bagian ketiga, Stiglitz menjelaskan solusinya untuk mengatasi permasalahan ketidaksetaraan dan mencegahnya agar tidak terjadi lagi.


A. Inequality and How it is Created

Amerika Serikat yang dulunya adalah land of opportunity sudah tidak lagi demikian adanya. Sebutan land of opportunity dianggap hanya sebuah mitos belaka. Pertumbuhan ekonomi Amerika yang amat tinggi ternyata mengerucut pada 1 % penduduknya saja dan menciptakan ketidaksetaraan atau inequality. Selama sekitar 30 tahun setelah perang dunia kedua, 1% dari penduduk Amerika Serikat memiliki porsi terbesar pada pendapatan Amerika Serikat. Dalam lima tahun sampai 2007, terhitung bahwa 1% penduduk ini telah menyita lebih dari 65% keuntungan pendapatan nasional Amerika Serikat. Pada tahun 2010, saham mereka meningkat menjadi sejumlah 93%.

Secara jelas tergambarkan bahwa bahkan kekayaan lebih tidak terdistribusi secara merata ketimbang pendapatan. Dengan 1 % terkaya menguasai lebih dari sepertiga kekayaan negara. Data ketidaksetaraan pendapatan hanya menawarkan sebuah potret dari perekonomian pada satu waktu. Inilah yang menjadi sebab mengapa data pada ketidaksetaraan kekayaan begitu bermasalah dimana ketidaksetaraan kekayaan melampaui variasi yang terlihat pada penghasilan dari tahun ke tahun.

Kekayaan yang hanya berputar pada 1 % kelompok penduduk di Amerika Serikat membuat masyarakat kelas menengah lambat laun menyadari bahwa mereka telah lama menderita akibat pendapatan yang terus menerus dialihkan, bahkan sejak saat sebelum terjadinya krisis di Amerika Serikat. Kebangkitan ekonomi di Amerika Serikat pada tahun 90-an ternyata merupakan sebuah kebangkitan yang tidak berhasil mengangkat ekonomi pada seluruh lapisan masyarakat. Ketidaksetaraan yang terjadi di Amerika telah dimulai sejak tahun 90-an dan menempati peringkat yang terparah di antara negara- negara maju lainnya.

Pada periode ini dimana ketidaksetaraan semakin berkembang di Amerika Serikat, maka pertumbuhan kualitas masyarakat pun kian melambat. Para pemuda usia 25 tahun hingga 34 tahun yang kurang berpendidikan akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan penghasilan yang memadai. Bahkan seorang sarjana pun masih akan mengalami setidaknya permasalahan yang serupa karena sistem gaji yang sebenarnya memang dirancang untuk tidak cukup memadai. Semacam terdapat poverty trap yang mengikat keberadaan orang- orang yang memang sudah di dalamnya.

Trauma terhadap The Great Recession sedikit banyak membuat masyarakat mulai waspada bahwa akan terjadi kembali resesi besar- besaran yang berakibat pada terusirnya ratusan keluarga dari rumahnya dan ribuan orang kehilangan mata pencaharian. Protes occupy wall street merupakan salah satu tanda yang menunjukan bahwa masyarakat kini tidak lagi bisa tenang melihat kondisi ketidaksetaraan yang bisa membawa Amerika Serikat pada krisis dan resesi yang lebih besar. Akan tetapi pada kenyataannya dengan distribusi pendapatan yang tidak merata, maka jelas ketidaksetaraan terus berkembang di Amerika Serikat secara absolute.

Rent Seeking and the Making of Unequal Society

Keberadaan sistem ekonomi dan pasar yang memburuk dikatakan Siglitz ialah sebagai hasil dari kebijakan public yang dirumuskan oleh para elit penguasa, dengan mendistorsi perdebatan politik. Pemerintah tidak melakukan tindakan yang membperbaiki sistem tersebut tetapi justru malah turut andil. Mereka menekan masyarakat melalui pemotongan pajak untuk mendukung yang kaya dan menyesuaikan kebijakan moneter untuk mendukung bank. Sehingga kemudian banyak orang kaya baru yang muncul bukan sebagai entrepreneur tetapi rent- seeker yang menggunakan monopoli untuk menghasilkan keuntungan. Hal ini tidak membantu terciptanya kemakmuran yang lebih besar bagi semua. Sebaliknya, banyak keuntungan ini sifatnya adalah rent seeking, tidak menciptakan kekayaan baru tapi mengambil dari orang lain. 

Rent-seeking merupakan konsep dimana orang- orang menggunakan power untuk melindungi diri dari kekuatan kompetitif dengan menguasai pengaturan pajak. Pemerintah melindungi pasar dan bank dengan menyalahgunakan prinsip invisible hand yang dikemukakan Adam Smith. Pada akhirnya peluang terhadap terjadinya monopoli sangat terbuka lebar, apalagi jika hukum tidak diterapkan. Di sisi lain, pemerintah justru tidak memperbaiki situasi tetapi malah membantu terciptanya ketidaksetaraan. Dengan kata lain, Inequality atau ketidaksetaraan yang terjadi di Amerika Serikat bukanlah efek samping dari kapitalisme melainkan dibuat oleh orang- orang yang memiliki kekuatan. 

Peran rent seeking dalam menciptakan inequality secara lebih spesifik dapat dijelaskan melalui prinsip Supply & Demand. Jika persediaan pekerja banyak tetapi permintaan turun, maka gaji akan berkurang. Pergeseran sektoral pada pekerjaan dan biaya pendidikan yang semakin tinggi memicu terjadinya perubahan demand pekerja yang berakibat pada naik- turunnya gaji pekerja. Pemerintah sebagai pihak yang mengatur rule of the game & distribution justru gagal memainkan peranannya. Sedangkan keberadaan globalisasi kemudian menjadi bagian yang penting dari masalah globalisasi perdagangan dan globalisasi pasar. 

Salah satu kelompok yang dapat diidentifikasikan dalam kalangan orang- orang yang paling kaya ialah CEO. Para CEO di Amerika Serikat tidak menjadi kaya secara tiba- tiba, tetapi mereka menggunakan kemampuan mereka untuk mengambil lebih banyak dari perusahaan yang semestinya mereka layani. Selain CEO, pengacara juga termasuk dalam kalangan mereka yang memiliki kekayaan tinggi dengan jalan rent seeking. Dengan biaya hukum yang mahal, pengacara bisa meraih kekayaanya dengan membantu pengerjaan kesepakatan yang rumit terkait masalah pajak, sehingga kemudian klien mereka tidak perlu membayar pajak. Pengacara membantu terjadinya perancangan pasar yang cenderung kompleks dan tidak transparan. 

Ketidaksetaraan semakin bertahan dengan adanya pembenaran dan monopoli bahwa mereka yang kaya ialah mereka yang bekerja. Dengan demikian orang beranggapan bahwa mereka harus terus bekerja keras agar bisa meredamkan ketidaksetaraan padahal ketidaksetaraan tersebut merupakan hasil dari sistem. Gaji yang membengkak diperlukan untuk mempertahankan prestasi produktivitas yang tinggi. Stiglitz menunjukkan, hasilnya lebih sering untuk kegagalan. Kesenjangan menjadi jurang dan orang-orang miskin di Amerika Serikat akan tetap miskin. Meskipun demikian hampir tujuh dari sepuluh orang Amerika masih percaya bahwa tangga kesempatan pasti ada. 

Stiglitz dalam bukunya mengungkapkan bahwa terdapat tiga factor yang berkontribusi terhadap peningkatan monopolisasi pasar. Pertama, terdapat sebuah peperangan ide mengenai peran pemerintah yang harus mengambil posisi dalam memastikan kompetisi. Kedua, terdapat perubahan dalam ekonomi Amerika Serikat yang mengarah pada standardisasi industry. Ketiga, pada kompetisi yang terbatas maka harga kemungkinan akan jauh melebihi tingkat kompetitif. Sehingga kemudian sejalan dengan berkembangnya ketiga hal tersebut di atas, maka monopoli pun semakin menguat di pasar Amerika Serikat dan menyebabkan tingkat ketidaksetaraan semakin tinggi. 

Menurut Stiglitz, ketidaksetaraan harus menjadi isu utama yang mesti diperhatikan oleh Amerika serikat. Ketidaksetaraan memang bisa memberi motivasi, namun jika dibiarkan tanpa ada pengawasan, ketidaksetaraan dapat mengakibatkan kesempatan orang- orang kelas bawah untuk meningkatkan kekayaannya menjadi berkurang. Jika pemerintah tidak bisa merespon persoalan ketidaksetaraan ini dengan baik, maka akan menciptakan bubble yang menyebabkan ketidaksetaraan tumbuh membesar semakin cepat. Intinya, ketidaksetaraan di Amerika Serikat akan terus berkembang tanpa henti. Secara lebih mendetail, ketidaksetaraan akan membuat ekonomi tidak efisien dan tidak produktif. Masyarakat tidak lagi bisa berinvestasi, tidak semua orang bisa produktif karena pendapatan yang kecil dan ekonomi dimonopoli oleh para rent- seeker.

B. The Effect of Inequality

Dalam bagian kedua buku The Price of The Inequality, Stiglitz memaparkan bahwa terjadinya ketidaksetaraan turut menyebabkan degradasi terhadap nilai terpenting Amerika Serikat, yakni demokrasi. Indikator yang dapat dicermati ialah proses politik yang menjadi terganggu dimana bukan lagi one man one vote yang berlaku, melainkan one dollar one vote. Semua hal yang dilakukan pemerintah dapat dikendalikan oleh orang- orang kaya untuk kepentingan sendiri. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun mulai menurun dan terjadi kesulitan dalam penerapan kebijakan pemerintah. Di sisi lain, kepercayaan merupakan salah satu factor yang menguatkan social capital. Dengan social capital yang kuat dan lebih tinggi, maka akan terjadi produktifitas yang baik dimana masyarakat menjadi lebih mudah diajak bekerja sama karena adanya semacam perekat. 

Proses politik yang terganggu tersebut juga menimbulkan keberadaan keadilan yang semakin terasa nihil. Sedangkan seorang individu dalam masyarakat sangat membutuhkan keberadaan keadilan untuk meyakinkan ia untuk bekerja. Dapat diibaratkan bahwa ketika seorang individu hanya mendapati 1 dari 10 sedangkan yang lain mendapati 9, maka pada batas kesabarannya ia akan lebih baik memilih 0 ketimbang 1. Dengan demikian, ketidakhadiran keadilan menjadi factor psikologis yang membuat masyarakat makin enggan bekerja dan menurunkan tingkat produktivitas pada suatu titik. 

Ketidakpercayaan, pengkaburan informasi media dan kekecewaan masyarakat menjadi rentetan dampak yang muncul sebagai konsekuensi proses politik yang terganggu. Masyarakat tidak hanya tidak memiliki kepercayaan terhadap oknum pemerintahan tetapi juga terhadap informasi media. Orang- orang mulai merasa tidak berdaya dan beberapa hak memilih yang sifatnya menentang penguasa akan dicabut. Nilai sacral demokrasi Amerika Serikat mulai terlihat berada di ambang bahaya. 

Salah satu cara bagi warga Amerika Serikat untuk menghadapi perlakuan tidak adil adalah melalui jalan hukum. Namun, hukum di Amerika Serikat telah dirancang agar membutuhkan biaya yang mahal dan bertele- tele. Sehingga kemudian hanya orang- orang kaya lah yang mampu memanfaatkan hukum secara maksimal. Ketidaksetaraan yang terjadi membuat orang- orang yang mampu memanfaatkan hukum semakin sedikit. 

Siglitz memaparkan, demokrasi yang seharusnya bisa merefleksikan kepentingan mayoritas penduduk suatu negara justru di Amerika Serikat hanya mampu merefleksikan kepentingan dari 1% penduduknya saja, padahal Amerika Serikatlah yang selama ini membangga- banggakan demokrasinya ke seluruh dunia. Namun jika melihat bagaimana ketidaksetaraan terjadi, maka jelas akan membuat orang- orang ragu terhadap Amerika Serikat. Keraguan ini akan berdampak pada berkurangnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap kekuatan Amerika Serikat. Sehingga pada akhirnya, pengaruh Amerika Serikat di dunia internasional akan berkurang. Ini merupakan salah satu ketakutan terbesar yang patut diperhatikan terutama jika ketidaksetaraan terus berkembang. 

Stiglitz berargumen bahwa persepsi memberikan peran penting bagi terciptanya ketidaksetaraan. Dalam permasalahan ketidaksetaraan ini, persepsi memberikan perannya dalam membentuk kebijakan serta pasar. Sebab pasar merupakan tempat berinteraksinya manusia yang dalam menentukan tindakannya sangat dipengaruhi oleh persepsinya terhadap sesuatu. Stiglitz mengungkapkan bahwa 1 % populasi Amerika serikat yang memiliki kekuatan telah berhasil membentuk persepsi public tentang apa yang adil dan efisien, tentang kelemahan pemerintah dan kekuatan pasar, serta persepsi bahwa ketidaksetaraan tidak terjadi di Amerika Serikat, melalui media propaganda. Mereka bahkan membentuk persepsi bahwa krisis yang terjadi pada tahun 2008 merupakan kesalahan pemerintah yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan pasar. Dengan begitu, masyarakat menjadi tidak awas terhadap terjadinya ketidaksetaraan dan tetap mengikuti keinginan golongan 1%. 

Battle of the Budget

Stiglitz selanjutnya memaparkan bagaimana pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang salah dalam menghadapi resesi 2008. Kebijakan tersebut nyatanya malah meningkatkan ketidaksetaraan yang sudah ada. Seharusnya jika menghadapi resesi, pemerintah berupaya meningkatkan spending (fiscal) untuk menghidupi masyarakat, tetapi pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu justru melakukan pengetatan dengan meningkatkan pajak buruh dan mengurangi pajak pengusaha. 

Program austerity kemudian malah memperkuat swasta dan tidak berpihak pada buruh. Padahal dalam keadaan krisis, pemerintah seharusnya dapat meningkatkan demand, bukan supply. Kebijakan pemerintah dibuat seolah-olah menyalahkan para pekerja yang sebenarnya merupakan korban dari krisis. Pada akhirnya pekerjaan hilang, pengangguran meningkat, dan perekonomian tidak berjalan. Sayangnya, golongan 1% tetap menang karena kebijakan pemerintah telah memulihkan sebagian kerugian mereka. 

Siglitz menilai bahwa kebijakan makroekonomi berhutang tanggung jawab terhadap persoalan meningkatnya ketidaksetaraan karena dianggap tidak memikirkan isu pendistribusian pendapatan. Sehingga sebagai akibatnya terjadi sentralisasi pendapatan pada 1% penduduk Amerika Serikat. Dua kebijakan makroekonomi Amerika Serikat yang berakibat meningkatnya ketidaksetaraan ialah deregulasi dan demokratisasi bank sentral. Bank sentral independen dianggap gagal karena ia telah dibajak oleh sector penjual sehingga dapat menguntungkan kelompok 1%.     

C. The Way Forward

Menurut Stiglitz jika ditilik dari penjelasan di atas, maka Amerika Serikat telah menempuh jalan yang salah dalam mengambil kebijakan dan perbaikan harus dilakukan. Reformasi ekonomi dan politik menjadi solusi yang ditawarkan oleh Stiglitz. Yaitu dengan jalan memangkas rent-seeking, perbaikan sistem hukum dan keuangan, perbaikan pajak, peningkatan kualitas pendidikan; kesehatan dan perlindungan sosial serta pengurangan dampak globalisasi. Berikut agenda reformasi yang ditawarkan oleh Stiglitz. 

Pertama, reformasi ekonomi harus dimulai dari sektor finansial. Pemerintah harus mengurangi kesempatan orang-orang finansial untuk melakukan rent-seeking. Bank harus dibuat lebih transparan dan pengawasan harus diperketat untuk melakukan derivative. Pembayar pajak juga harus dilibatkan jika Bank mengeluarkan kebijakan berisiko, seperti sub-prime mortgage. Terakhir, Bank-Bank dan perusahaan kartu kredit harus dibuat lebih kompetitif agar mereka tidak melakukan monopoli untuk memeras nasabah. 

Kedua, pemerintah harus melakukan reformasi di bidang pajak. Pemerintah harus membuat pajak yang lebih berat ke perusahaan. Hal ini penting, sebab pajak harus disesuaikan dengan pendapatan setiap orang. Terakhir, pemerintah harus memastikan bahwa semua orang membayar pajak sesuai ketentuannya. 

Ketiga, pemerintah harus memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat Amerika Serikat. Solusi sebelumnya hanya dapat mengurangi ruang gerak golongan 1%, namun belum membantu golongan 99% penduduk AS. Agar ketidaksetaraan dapat berkurang, golongan 99% perlu mendapatkan insentif agar mereka termotivasi untuk bekerja dan meningkatkan tingkat kehidupannya sendiri. Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki akses ke pendidikan. Kampanye untuk menabung harus ditingkatkan. Pelayanan kesehatan harus diberikan bagi semua dengan kualitas yang sama. Terakhir, pemerintah harus memperkuat program proteksi sosial lainnya yang sudah berjalan, seperti earned-income tax credit, Medicaid, dan Food Stamps. 

Keempat, pemerintah harus melakukan reformasi politik yang memungkinkan ketiga agenda di atas dapat dilaksanakan. Stiglitz mengungkapkan bahwa pembentukan institusi alternatif sangat memungkinkan, namun dapat mengarahkan pada arah yang salah lagi. Setidaknya, aturan kampanye harus diubah dengan semakin sedikit melibatkan uang dalam pelaksanaannya. 

Pada bagian akhir, Stiglitz menyampaikan bahwa semua agenda tersebut akan mengurangi kekuatan golongan 1% dan mengarahkan AS pada era baru. Namun untuk melakukannya, golongan 99% harus menyadari bahwa mereka telah dipermainkan oleh golongan 1% dan berniat untuk melakukan reformasi secara serius. Selama ini golongan 1% telah meyakinkan golongan 99% bahwa tidak ada jalan lain selain Kapitalisme, bahwa Sosialisme tidak akan memberikan kesempatan bagi semua orang. Stiglitz mengimbau agar golongan 99% menyadari bahwa semua itu hanyalah mitos belaka. 

Selain itu, melihat perkembangan kasus yang terjadi di Arab, dimana masyarakat bersatu padu melawan golongan minoritas yang selalu menekan mereka, golongan 1% AS seharusnya menyadari bahwa itu dapat terjadi pada mereka juga. Golongan 1% juga harus menyadari bahwa apa yang terjadi selama ini sangat bertentangan dengan nilai dasar yang selalu dianut oleh AS, nilai tentang kebebasan. 

Melalui dua cara itulah, AS dapat melangkah menuju era baru. Era dimana tidak ada lagi ketidaksetaraan dan semua orang dapat sama-sama bekerja dengan maksimal. Stiglitz mengatakan bahwa ia percaya bahwa masih belum terlambat bagi AS untuk berubah.

Conclusion

Kesan pertama yang ditangkap penulis dalam buku The Price of Inequality adalah betapa banyaknya pengetahuan yang dimiliki Stiglitz mengenai sejarah perekonomian. Dari Bab pertama hingga terakhir, kita disuguhkan mengenai sejarah Amerika Serikat dan bagaimana perkembangan perekonomiannya hingga akhirnya ketidaksetaraan dapat terbentuk. Penjelasan tersebut dipaparkan secara runtut dengan bahasa yang indah sehingga penulis merasa seperti membaca sebuah novel mengenai perkembangan perekonomian Amerika Serikat. Hal ini memang wajar mengingat tujuan utama Stiglitz menuliskan buku ini adalah untuk menyadarkan penduduk Amerika Serikat mengenai ketidaksetaraan yang sebenarnya sudah hidup bersama mereka cukup lama. Mungkin karena hanya bertujuan untuk meningkatkan penyadaran, buku ini cenderung menjadi subjektif. 

Dalam bagian dimana Stiglitz mengungkapkan tentang mitos kesempatan di Amerika Serikat dan dominasi 1%, terdapat sebuah sisi dimana penjabaran tersebut dilebih-lebihkan. Faktanya bagi orang-orang Amerika Serikat sendiri, pendapatan mereka memang setimpal dengan apa yang mereka kerjakan. Kebangkitan ekonomi Amerika Serikat pada tahun 90- an bukannya tidak berhasil mengangkat ekonomi pada seluruh lapisan masyarakat, melainkan pola dan tingkat pengangkatnnnya terjadi secara berbeda- beda. Dan jika terdapat sumber daya manusia yang sulit mendapatkan pekerjaan akibat pendidikan yang minim, jelas itu memang bagaimana yang seharusnya terjadi karena job opportunity saat ini banyak memerlukan tenaga ahli. Sehingga sebenarnya mitos 1 % dan broken American dreams sebenarnya hanya ada pada mereka yang tidak bisa mengembangkan kekayaanya saja. 

Solusi yang diberikan oleh Stiglitz pun terkesan sangat normatif dan tidak memberikan sesuatu yang baru. Stiglitz seolah hanya mengungkapkan apa yang menurutnya baik bagi perekonomian Amerika Serikat tanpa memikirkan kemungkinan untuk melaksanakannya. Bahkan Stiglitz sendiri mengungkapkan bahwa ia tidak yakin jika agenda reformasinya dapat dilakukan dengan kondisi politik saat ini. Sementara pada bagian agenda reformasi politik, Stiglitz bahkan tidak memberikan solusi yang spesifik untuk memperbaiki sistem politik Amerika Serikat. 

Namun, Stiglitz telah menjelaskan dengan baik bagaimana peran rent-seeking dapat membentuk ketidaksetaraan yang sedang terjadi di Amerika Serikat. Dengan penjelasan Stiglitz, orang-orang akan menjadi paham mengenai bahaya ­rent-seeking bagi perkembangan perekonomian suatu negara karena dapat meningkatkan ketidaksetaraan. Terlebih lagi, Stiglitz telah berhasil menyampaikan dampak-dampak mengerikan terhadap seluruh sendi-sendi ekonomi, politik, dan sosial Amerika Serikat jika ketidaksetaraan terus berlanjut. 

Walaupun terdapat beberapa poin subjektif dan solusi yang normatif, namun itu tidak mengurangi nilai buku ini. Poin terbaik dari buku ini adalah pada bagian pertama dan kedua dimana Stiglitz berhasil menjelaskan bagaimana ketidaksetaraan dapat terbentuk dan dampaknya bagi Amerika Serikat. Hanya dengan membacanya, seseorang akan mengerti bahwa terdapat kesalahan yang besar pada Amerika Serikat dan harus segera diperbaiki. Dengan begitu, buku ini telah berhasil mencapai tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesadaran orang-orang terhadap ketidaksetaraan di Amerika Serikat. 

Namun, buku ini jelas bukan dibuat untuk menyelesaikan ketidaksetaraan yang sedang terjadi. Solusi yang diberikan oleh Stiglitz adalah solusi ideal yang tidak dapat dilakukan dengan sistem politik yang ada saat ini. Menurut penulis, Buku The Price of Inequalities sangat baik digunakan bagi para pembuat kebijakan di negara dengan sistem ekonomi kapitalis yang ingin agar peristiwa sama tidak terjadi di negaranya. Para mahasiswa yang ingin mempelajari tentang pemikiran strukturalisme juga akan mendapat manfaat karena dengan membaca buku ini mereka dapat mengerti bagaimana caranya mengkritik sebuah struktur yang sangat besar seperti Amerika Serikat dan memecahkan mitos-mitos di dalamnya. 

Sebagai warga Indonesia, penulis merasa bahwa buku ini sangat berharga, sebab Indonesia sendiri baru memulai mengembangkan sistem kapitalismenya. Saat ini, tingkat ketidaksetaraan di Indonesia memang belum setinggi AS, namun itu bukanlah mustahil untuk terjadi. Jika para pembuat kebijakan di Indonesia membaca buku ini, kita dapat merasa yakin bahwa mereka mengerti konsekuensi dari sistem kapitalisme dan tahu bagaimana cara untuk menghadapinya. Sekian.

Ditulis oleh: Anggraeni Dwi Widiasih & Gema Ramadhan Bastari






Comments

Popular posts from this blog

Tiga Aspek Kedaulatan Negara

Perkembangan Pendidikan di Vietnam

Organisasi Regional

Memahami Konstruktivisme

Asumsi Dasar Liberalisme: Studi Kasus Konflik Laut China Selatan